BANDA ACEH - Puluhan personel pengaman hutan (Pamhut) mulai Rabu
(14/10) hari ini akan memburu para perambah hutan di kawasan Taman
Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan, Saree, Aceh Besar. Target
operasi terpadu yang digelar selama tiga hari ini, yakni menangkap
para perambah hutan, dan menertibkan bangunan liar di kawasan
konservasi tersebut.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Aceh, Ir H Hanifah
Affan MM mengatakan, pihaknya akan menangkap dan memproses secara
hukum para perambah hutan yang sudah pernah diperingatkan, serta telah
membuat pernyataan tertulis saat dilakukan operasi penertiban beberapa
waktu lalu.
“Operasi penertiban ini sudah dilaksanakan beberapa kali, dan sejumlah
pelaku perambah hutan sudah berkomitmen tidak mengulangi perbuatannya.
Namun, ada beberapa pelaku yang kembali merambah hutan. Para pelaku
yang membandel ini menjadi target operasi untuk diproses secara
hukum,” kata Hanifah, kemarin.
Sedangkan bagi pelaku lainnya, akan dibina dan diminta membuat
pernyataan tidak kembali melakukan perambahan hutan. Selanjutnya,
bekas lokasi perambahan akan dilakukan penanaman kembali melalui
program rehabilitasi hutan dan lahan. Operasi penertiban yang
menurunkan dua regu Pamhut ini, turut melibatkan Dishutbun Aceh Besar,
Polda aceh, Kodam IM, Pomdam IM, Biro Hukum Setda Aceh, BPN Aceh
Besar, Polres Aceh Besar, Kodim 0101/AB, dan pihak Kecamatan Lembah
Seulawah. “Berbagai unsur yang terlibat dalam operasi terpadu ini
sudah berkomitmen untuk memproses hukum setiap oknum yang terlibat
perambahan hutan. Baik itu oknum PNS, TNI, maupun Polri. Sehingga
operasi terpadu kali ini diharapkan bisa memberi efek jera pada
pelaku,” tambah Hanifah.(th)
BANDA ACEH--Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pidie mengungkapkan, pembakaran hutan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab terus terjadi dan mengalami peningkatan di daerah tersebut. "Hutan di Tangse rawan terbakar, dan itu justru dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan baru," kata Kadis Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pidie, Muhammad Amin Affan di Banda Aceh, Kamis (15/10).
Menurut dia,terjadi puluhan kali pembakaran hutan yang disengaja. Pembakaran terparah terjadi bulan Juli 2009.
Kini hutan terbakar di wilayah itu mencapai 200 hektare dan pelakunya, kata Amin Affan, kebanyakan pemburu rusa. Amin mengatakan, hutan Tangse rawan terbakar jika para pemburu masih belum sadar untuk melindungi hutan.
Kejadian yang telah berulangkali ini sangat mengkhawatirkan, apalagi di kawasan itu terdapat hutan pinus.
"Jika masyarakat belum mengerti betapa pentingnya melindungi hutan, tentu akan membawa dampak buruk bagi kehidupan anak cucunya di masa yang akan datang," kata Amin.
Masyarakat hendaknya memahami fungsi hutan yang menjadi sumber air bagi kehidupan, sehingga peristiwa pembakaran atau penebangan liar tidak akan terjadi lagi di masa mendatang. "Kami mengharapkan pengertian dan partisipasi masyarakat untuk melindungi hutan agar tidak membawa bencana seperti tanah longsor dan banjir akibat pembalakan dan pembakaran hutan," katanya.
Selain pembakaran hutan yang disengaja, aktivitas pembalakan liar juga masih terus berlangsung di kawasan hutan yang bertetangga dengan Kabupaten Aceh Besar. "Pegunungan Tangse dan Geumpang menjadi sasaran empuk pembalakan liar untuk membabat hutan. Mereka mengincar kayu untuk dijual demi kepentingan pribadi," katanya.
Akibat kemarau dan angin kencang yang melanda Pidie beberapa hari terakhir, sekitar 10 hektare hutan di Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Senin (12/10) kembali dilalap api.
SIGLI- Berdasarkan hasil survei Walhi Aceh menunjukkan bahwa hutan lindung tersebar di Pidie merupakan peninggalan nenek moyang, kini dilaporkan telah tandus. Fenomena ini akibat aksi penembangan liar masih terus berlangsung di lapangan.
“Betul, mengacu kepada laporan masyarakat dan hasil survei kita sendiri di lapangan, menunjukkan bahwa pembalakan liar terus terjadi di hutan Aceh dan juga di hutan lindung Pidie,” sebut Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Bambang Antariksa di sela-sela seminar dan work shop sehari dengan tema “Konsultasi Publik Rancangan Qanun pertanahan,” yang digagas YLBHI-LBH Banda Aceh Pos Lhoksumawe, Sabtu (24/1), di aula Dinas Infokom Pidie.
Menurutnya, meski Gubernur Aceh Irwandi Yusuf telah melahirkan moratorium loging sebagai bentuk jeda tebang, namun aturan itu belum membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Artinya, aturan yang digagas Pemerintah Aceh belum menyentuh pihak-pihak yang sampai kini masih menebang kayu secara ilegal.
Kecuali itu, lanjutnya, hadirnya polisi hutan (polhut) juga belum dapat menghentikan pembalakan liar yang terus terjadi di negeri ’Serambi Mekkah‘ ini. Bahkan, yang cukup ironi ada oknum polhut sendiri yang bermain kayu, seperti yang terjadi di Aceh Tamiang. Untuk itu, kata Bambang, tidak salah jika Pemerintah Aceh mengevaluasi kembali kinerja polhut yang jelas-jelas belum efektif.
Dalam menutupi celah pembalakan liar, menurutnya, pemerintah juga harus mampu memutuskan mata rantai kayu ilegal yang selama ini masih eksis dan melibatkan semua pihak. Baik melalui pemenuhan ekonomi maupun pendekatan terhadap masyarakat yang bermukim di kawasan hutan lindung.
Selain itu, katanya, pemerintah juga harus membuat presentase tentang jumlah kayu yang diperlukan setiap tahun untuk pembangunan infrasruktur. Ini salah satu alternatif, untuk mengetahui jenis kayu ilegal yang beredar. Kalau ini tidak dilakukan, sebutnya, maka aksi pembalakan liar akan jalan terus.
“Kita sangat menyayangkan aksi pembalakan liar yang sampai kini masih terjadi. Padahal, ratusan miliar dana mengalir lewat Dinas Perkebunan, untuk menghentikan jeda tebang, tapi sampai kini belum berhasil,” demikian Bambang Antariksa.(nr)
Sumber : Serambi Indonesia
Edisi : 27 Januari 2009
Bagi Mahasiswa(i) Universitas Jalbal Ghafur yang Ingin Bergabung Dengan Mapala Jabal Everest, Kami Membuka kesempatan untuk diDiksar menjadi Anggota Mahasiswa Pecinta Alam Jabal Everest Universitas Jabal Ghafur ( MAPALA JE UNIGHA ) Sigli.
Pendaftaran Dibuka Tanggal 17 Oktober 2009 s/d 23November 2009, Tempat Pengambilan Formulir Pendaftaran
1. Sekretariat Mapala JE Gedung Leguna Gle Gapui 2. Biro UNIGHA jln. Keunire
Keterangan Lebih Lanjut Hubungi Contac Dibawah Ini :
Mountaineering berasal dari kata “mountain” yang berarti gunung. Mountaineering dalam arti luas disebut juga suatu perjalanan yang dimulai dengan berjalan dibukit sampai dengan mendaki gunung yang tinggi dan sulit (hill walking – expedisi). Jadi mountaineering bisa di simpulkan dengan suatu kegiatan pendakian.
Menurut kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering terbagi menjadi tiga bagian :
1. Hill Walking / Fell Walking
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai dan yang tidak atau belum membutuhkan peralatan-peralatan khusus yang bersifat teknis.
2. Scrambling
Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai, kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.
3. Climbing
Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik khusus. Peralatan teknis diperlukan sebagai pengaman. Climbing umumnya tidak memakan waktu lebih dari satu hari.
MENGAPA MENDAKI GUNUNG ???
MENGAPA MENDAKI GUNUNG ???
Karena mendaki gunung adalah suatu olah raga keras, penuh petualangan dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri.
Bagi orang awam, kegiatan petualangan seperti mendaki gunung selalu mengundang pertanyaan klise “mau apa sih kesana???”. Pertanyaan sederhana tapi sering membuat bingung yang ditanya atau bahkan mengundang rasa kesal. George F. Mallory, seorang pendaki Inggris menjawab pertanyaan tersebut “because it is there”. Mallory bersama rekannya menghilang di everest tahun 1924. Soe hook Gie (Mapala UI) menulis dalam puisi “Aku Cinta Pangarango; karena aku mencintai kebenaran hidup”. Dia tewas tercekik gas beracun di puncak Mahameru tanggal 16 Desember 1969.
Motivasi mendaki gunung memang bermacam-macam. Manusia mempunyai kebutuhan psikologis, kebutuhan akan pengalaman baru, dan kebutuhan untuk diakui oleh manusia lainnya. Rasa ingin tahu adalah yang mendasari dan menjadi jiwa setiap manusia.
Di Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964 ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya (sekarang Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari Indonesia, serta Fred Atabe dari Jepang. Pada tahun yang sama, perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung mulai lahir, dimulai dengan berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung WANADRI di Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) di Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di berbagai kota di Indonesia.
Seperti yang kita ketahui pendakian bukanlah suatu aktifitas yang sederhana, sama dengan aktifitas lainnya, pendakianpun membutuhkan persiapan dan managemen yang tepat, agar pendakian yang akan di laksanakan akan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Baik sadar maupun tidak hampir semua pendaki pasti melakukan managemen pendakian ini sebelum melakukan perjalanan. Bagi yang pernah mendaki atau melakukan perjalanan, dari rumahpun pasti sudah memilki rencana, kemana akan mendaki, dengan cara apa bisa sampai ke lokasi, seberapa banyak logistik yang akan di bawa, dengan siapa akan melakukan pendakian dan sebagainya. Di dalam pendakian gunung dikenal dengan isitilah managemen pendakian, secara garis besar managemen pendakian menganut prinsip 4W + 1H yaitu
* Where / dimana, artinya dimana kita akan melakukan pendakian tersebut. Dengan menentukan atau mengetahui daerah yang akan kita lalui atau yang akan kita daki maka paling tidak kita sudah dapat mengenal medan yang akan didaki dengan cara mencari informasi sebanyak – banyaknya sehingga kita dapat memprediksikan kebutuhan yang kita perlukan selama perjalanan atau pendakian tersebut baik peralatan dan logistik yang di perlukan. misalkan, kita akan mendaki gunung merbabu dimana pendakian gunung merbabu dapat di jalani dalam waktu satu hari satu malam pasti akan membutuhkan perlengkapan logistik dan peralatan yang berbeda jika kita ingin mendaki gunung semeru misalnya, yang membutuhkan waktu lebih dari satu hari satu malam
* Who / siapa, kita harus tahu dengan siapa kita akan melakukan perjalanan atau pendakian serta harus tahu berapa banyak rekan perjalanan kita tersebut, dengan demikian kita akan dapat mengukur kekuatan kita dan rekan perjalanan kita, sehingga kitajuga mampu memprediksi berapa lama perjalanan yang akan di tempuh dan persiapan apa saja yang harus di persiapkan, misalkan apakah rekan seperjalanan kita mudah lelah, jika benar, maka kita akan cenderung siap dengan tipe perjalanan santai, yang tidka bisa memaksakan, begitu juga jika kita mambawa rombongan dalam pendakian masal, maka pola pendakian akan sangat berbeda di bandingkan jika kita melakukan pendakian dalam tim kecil 3 -4 orang saja
* Why / mengapa, alasan apa yang kita ambil dalam perjalanan itu, karena pendakian santai akan berbeda dengan pendakian yang dilakukan dalam rangka diksar ataupun SAR. dengan mengetahui alasan pendakian kita juga mampu membuat sebuah rencana pendakian yang tepat dan dapat mempersiapkan peralatan yang sesuai dengan tujuan yang di maksud
* When / kapan, kita juga harus mengetahui kapan kita akan melakukan perjalanan atau pendakian tersebut. misalakan kita akan melakukan pendakian pada saat musim hujan, pasti berbeda dalam mempersiapkan kebutuhan yang akan kita bawa di banding jika kita akan mendaki pada saat musim kemarau, paling tidak dengan mengetahui kondisi (waktu) kita akan melakukan perjalanan, akan menambah kemampuan kita untuk memprediksi hal – hal yang mungkin kita temui di lapangan
* How / bagaimana, yang terakhir adalah bagaimana kita akan melakukan perjalanan atau pendakian tersebut, dengan mengetahui lokasi yang akan kita lalui / daki, dengan siapa kita akan melakukan perjalanan, mengapa kita melakukan perjalanan tersebut, dan kapan kita akan melakukan perjalanan itu, maka kita akan bisa membuat rencana perjalanan secara seksama berupa petunujuk pelaksanaan yang pada akhirnya dapat di pergunakan untuk acuan supaya perjalanan atau pendakian berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan kita.
jadi sebenarnya managemen pendakian ini mencakup segala hal yang berhubungan dengan pendakian. Dengan mempergunakan managemen pendakian yang baik dan benar, maka sebuah perjalanan atau pendakian akan menjadi lebih nyaman dan teratur, sehingga mengeliminasi kemungkinan terjadinya hal – hal yang tidak di inginkan. Dengan memiliki managemen pendakian ini, akan mempermudah orang untuk memberikan pertolongan kepada kita jika terjadi sesuatu hal terhadap diri kita di dalam perjalanan
LANGKAH-LANGKAH DAN PROSEDUR PENDAKIAN
Umumnya langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok pencinta alam dalam suatu kegiatan pendakian gunung meliputi tiga langkah, yaitu :
1. Persiapan
Yang dimaksud persiapan pendakian gunung adalah :
Menentukan pengurus panitia pendakian, yang akan bekerja mengurus : Perijinan pendakian, perhitungan anggaran biaya, penentuan jadwal pendakian, persiapan perlengkapan/transportasi dan segala macam urusan lainnya yang berkaitan dengan pendakian.
Persiapan fisik dan mental anggota pendaki, ini biasanya dilakukan dengan berolahraga secara rutin untuk mengoptimalkan kondisi fisik serta memaksimalkan ketahanan nafas. Persiapan mental dapat dilakukan dengan mencari/mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga timbul dalam pendakian beserta cara-cara pencegahan/pemecahannya.
2. Pelaksanaan
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan membawa guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah mendaki gunung tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca jalur pendakian.
Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
- Kelompok pelopor
- Kelompok inti
- Kelompok penyapu
Masing-masing kelompok, ditunjuk penanggungjawabnya oleh komandan lapangan (penanggungjawab koordinasi).
Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian yang tersedia di setiap base camppendakian, biasanya menghubungi anggota SAR atau juru kunci gunung tersebut.
Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan tetap yaitu : Pelopor di depan (disertai guide), kelompok inti di tengah, dan team penyapu di belakang. Jangan sesekali merasa segan untuk menegur peserta yang melanggar peraturan ini.
Demikian juga saat penurunan, posisi semula diusahakan tetap. Setelah tiba di puncak dan di base campjangan lupa mengecek jumlah peserta, siapa tahu ada yang tertinggal.
3. Evaluasi
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan, karena dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan. Ini menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).
PERSIAPAN BAGI SEORANG PENDAKI GUNUNG
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan antara lain :
1.Sifat mental.
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti kata sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
2. Pengetahuan dan keterampilan
Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.
3. Kondisi fisik yang memadai
Mendaki gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi fisik yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus selalu berlatih.
4. Etika
Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga harus menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung yang selama ini kita lakukan..
TAHAP PERSIAPAN
1. Nutrisi
Yang diperlukan oleh tubuh yaitu :
- Karbohidrat (1 gram = 1 kalori)
- Lemak (1 gram = 9 kalori)
- Protein (1 gram = 4 kalori)
- Vitamin ( A, B, C, D, E, K)
- Mineral/elektrolit
- Air
Keenam unsur nutrisi di atas mutlak dibutuhkan oleh manusia dalam hidup sehari-hari. Jika terdapat kekurangan salah satu unsur dan berlangsung berlarut-larut maka sel-sel akan mengalami kerusakan dilanjutkan dengan kematian.
Dalam melakukan suatu aktifitas, unsur nutrisi yang berperan penting adalah karbohidrat sebagai suplier energi pertama yang selanjutnya digunakan sebagai sumber tenaga. Jika energi tidak dipakai/lebih maka akan disimpan dalam bentuk lemak yang akan ditumpuk di bawah kulit atau melapisi suatu organ. Lemak akan diubah menjadi energi bila tubuh memerlukan sumber tenaga, sedangkan tubuh tidak mendapatkan suplai karbohidrat dari luar (makanan).
Unsur protein yang digunakan sebagai unsur pembangun/perombak sel-sel yang telah rusak/mati dan untuk proses itu diperlukan energi dan peran unsur lain.
Vitamin diperlukan bagi tubuh untuk menunjang berlangsungnya proses pembangunan maupun perombakan sel-sel tubuh. Sedangkan air dan elektrolit paling banyak dibutuhkan sebagai stabilisator dari kehidupan setiap sel di tubuh.
Jadi keberadaan setiap unsur tersebut mutlak adanya, dalam arti jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan hal itu tergantung dari : usia, luas permukaan tubuh, jenis kelamin, aktifitas, kondisi tubuh tertentu, periode tertentu dari wanita (misal menstruasi).
Aktifitas mountaineering adalah satu aktifitas yang besar (lebih dari 2500 kalori). Untuk itu diperlukan makanan yang banyak mengandung karbohidrat seperti nasi, ubi, roti, mie, gala-gula, coklat, dan sebagainya.
Agar penyerapan makanan dalam tubuh lebih optimal sebaiknya dimakan dalam keadaan segar, suhu sesuai dengan suhu tubuh/hangat, mudah dicerna, tidak berlebihan jumlahnya, sebelum melakukan aktifitas atau 1 jam setelah melakukan aktifitas, usahakan jangan makan makanan yang merangsang lambung.
Air sangat dibutuhkan tubuh untuk melakukan aktifitas untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, baik lewat keringat maupun evaporasi.
2. Exercise
Latihan fisik sangat diperlukan sebelum melakukan suatu aktifitas berat, karena berguna untuk :
- melatih otot jantung
- melatih paru-paru
- melatih elastisitas tubuh
Melatih otot jantung dimaksudkan agar kerja otot jantung lebih optimal sehingga jantung dapat memompa darah dalam jumlah dan frekuensi yang optimal sehingga darah dapat dialirkan ke otak dan seluruh tubuh.
Melatih kerja paru-paru dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas alveoli-alveoli paru dalam pertukaran oksigen dan gas CO2 serta melatih memperbesar volume udara yang akan diserap oleh paru-paru dalam tiap menit dalam frekuensi yang sama seperti saat tak ada aktifitas.
Jika kerja dari jantung dan paru-paru optimal maka peredaran darah ke otak dan ke seluruh tubuh akan lancar, artinya suplai nutrien ke seluruh sel-sel tubuh serta pertukaran zat yag tidak digunakan akan lancar.
Melatih elastisitas tubuh dimaksudkan untuk melatih kelenturan otot dan sendi dari peregangan, penekanan atau puntiran. Latihan ini harus dilakukan secara bertahap dan teratur. Latihan ini juga akan merangsang peningkatan metabolisme dari sel-sel otot itu sendiri sehingga sel oto lebing mengembang dan elastis.
Dari penelitian kesehatan, olahraga lebih baik dilakukan pada saat kadar oksigen di udara tinggi, yaitu pada pagi dan sore hari dan sebaiknya dilakukan ditempat terbuka. Adapun jenis olahraga yang dibutuhkan adalah semua jenis olahraga yang melatih kerja jantung dan paru-paru yang dilakukan secara teratur dan tidak berlebihan.
penting : exercise ini hanya berlaku bagi yang tidak mempunyai kelainan pada jantung/paru-paru.
TAHAP AKTIFITAS
Faktor Non-Fisik
Yang harus diperhatikan adalah :
- Kondisi alam : Cuaca, tipe medan
- Lamanya aktifitas berlangsung
- Jenis aktifitas
- Sarana Pendukung : Tim, Pribadi
Faktor Fisik
Kegiatan pendakian adalah kegiatan fisik total, maka dalam melakukannya perlu diperhatikan :
- Sehat fisik dan mental, jika salah satu atau keduanya mengalami gangguan maka akan memperburuk keadaan yang telah dialami dan sering menimbulkan faktor celaka.
- Tidak memforsir tenaga, jika mengalami kelelahan sebaiknya istirahat dulu karena jika kelelahan berkelanjutan akan lebih membahayakan diri.
- Tidak minum alkohol karena alkohol justru dapat menurunkan stamina tubuh akibatnya tubuh tidak dapat menahan suhu dingin. Alkohol juga dapat menyebabkan gangguan otak, akibatnya bisa terjadi halusinasi dan disorientasi.
- Gunakan waktu istirahat seefektif mungkin untuk mengembalikan stamina, hematlah energi yang telah terbatas dengan istirahat.
- Pakailah pakaian yang dapat melindungi tubuh dari kedinginan sehingga mengurangi resiko terjadinya kehilangan panas tubuh yang berlebihan yang akibatnya bisa terjadi hipotermia yang bisa mengancam keselamatan jiwa..
Sebelum melakukan perjalanan di alam bebas
Sebelum kita melakukan perjalanan hendaklah selalu memikirkan rencana cadangan jika terjadi sesuatu yang buruk. misalnya apa yang dilakukan jika perjalanan tertunda, jika tersesat, jika cedera, dan apakah kita merasa siap untuk mengantisipasi semua itu.
Kemampuan bernavigasi sangatlah diperlukan, pelajarilah dasar-dasar penggunaan peta dan kompas. Belajarlah dengan semua media yang ada seperti buku, internet, peta topografi, dan media yang lain. Belajarlah dengan orang yang mengerti cara membaca peta topografi dan penggunaan kompas.dan belajarlah semaksimal mungkin.
“bermainlah” di alam bebas walaupun hanya perjalanan seharian kemudian pelajarilah jalur yang baru saja anda lewati dalam peta di rumah. Jika anda melakukannya tidak dalam keadaan tertekan, maka akan memudahkan anda untuk lebih terbiasa dan nyaman dengan keunikan garis kontur dari suatu peta topografi.
Suatu hal yang sangat penting ketika anda melakukan suatu perjalanan alam bebas, beritahukan kepada seseorang jalur yang akan anda lewati, fotokopi peta anda kemudian plot rencana jalur anda (minimal point start), kemudian berikan kepada saudara, teman, atau petugas basecamp setempat. Jika anda merubah jalur semula, sebelum memulai perjalanan beritahukan kepada mereka. Hal ini sangat berguna dalam pencarian jika nantinya anda tersesat.
Selama Dalam Perjalanan
Selain perlengkapan dasar, bawalah bohlam lampu senter cadangan, pensil atau polpen, dan makanan darurat, berjanjilah kepada diri anda sendiri untuk tidak memakannya jika anda lapar selama masih ada makanan di awal perjalanan anda.
Cek selalu peta yang anda bawa, meskipun anda berada dalam jalur pendakian, ingatlah selalu dan rasakan bagaimana keadaan kontur di sekeliling anda.
Tetaplah selalu bersama-sama!!! Jika salah satu dari anggota anda terpisah, maka ia dapat dengan mudah keluar dari jalur yang semestinya dan tersesat.
Bawalah peluit dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau misalnya diikatkan pada tali punggung tas sehingga mudah untuk diraih.
Bawalah alat penunjuk waktu sehingga anda dapat selalu mengetahui waktu. Hindarilah percaya diri yang berlebihan. Beberapa orang percaya tersesat hanya terjadi pada orang lain. Buang jauh-jauh ego anda dan biasakan untuk mengecek ulang posisi anda dan sadarilah dimana seharusnya anda berada. Ketika anda menjumpai bentang alam yang menonjol seperti percabangan jalan, jembatan, atau tempat peristirahatan, cobalah untuk mencari lokasinya dalam peta. Ini akan lebih membuat anda yakin dimana anda berada.
PERALATAN/PERLENGKAPAN PENDAKIAN
Pendakian adalah sebuah kegiatan yang beresiko tinggi, tak benar jika kita tak ada persiapan apapun untuk menjalankannya, sehingga apapun yang kita lakukan seyogyanya ada persiapan dan perencanaan. Berikut coba saya sampaikan beberapa perlengkapan yang kiranya kita siapkan untuk sebuah pendakian:
A. Perlengkapan Jalan (untuk medan gunung hutan)
1. Sepatu
Mempunyai kegunaan sesuai dengan kebutuhan perjalanan.
Sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki
Harus kuat untuk pemakaian yang berat
Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu :
Melindungi telapak kaki sampai mata kaki
Kulit tebal, tidak mudah sobek
Lunak bagian dalam, masih memberikan ruang bagi gerak kaki
Keras bagian depannya, untuk melindungi jari kaki (tidak dianjurkan memakai sepatu pekerja tambang, yang bagian depan sepatu sangat keras karena dilapisi dengan besi, selain berat juga akan merusak jari kaki jika ada perubahan suhu)
Bentuk sol bawahnya harus dapat menggigit tanah ke segala arah dan cukup kuat.
Ada lubang ventilasi, yang bersekat halus sehingga air dan udara lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.
2. Kaus Kaki
Yang perlu diperhatikan : menyerap keringat. Gunanya :
Melindungi kulit kaki dari pergesekan dengan kulit sepatu.
Menjaga agar kulit kita tetap dapat bernafas.
Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah yang dingin.
3. Celana Jalan
Yang perlu diperhatikan :
Kuat, lembut
Ringan
Tidak mengganggu gerakan kaki, jahitannya cukup longgar
Praktis
Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
Mudah kering, bila basah tidak menambah berat
Bahan celana yang terbuat dari katun cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan duri, mudah kering.
4. Baju Jalan
Yang perlu diperhatikan :
Melindungi tubuh dari kondisi sekitar
Kuat
Ringan
Tidak mengganggu pergerakan
Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
Praktis
Mudah kering
5. Topi Lapangan
Yang perlu diperhatikan :
Melindungi kepala dari kemungkinan akibat duri
Melindungi kepala dari hujan, terutama kepala bagian belakang.
Harus kuat dan tidak mudah robek, untuk medan gunung hutan dianjurkan memakai topi rimba atau semacam topi Jepang.
6. Sarung tangan Lapangan
Yang perlu diperhatikan :
Sebaiknya terbuat dari kulit
Bentuknya sesuai dengan tangan kita
Tidak kaku, artinya tidak menghalangi gerakan tangan.
7. Ikat Pinggang
Pilihlah yang terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala yang tidak terlalu besar tetapi teguh. Selain menjaga agar celana tidak kendur, juga untuk meletakan alat-alat yang perlu cepat dijangkau seperti pisau pinggang, tempat air minum, tempat alat-alat P3K, dll.
8. Ransel / Carrier
Ringan, Sejauh mungkin tidak merupakan tambahan beban yang berlebihan, terbuat dari bahan yang water proof.
Kuat, harus mampu membawa beban dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, zippernya cukup kokoh, dsb.
Nyaman dipakai, dianjurkan agar memakai ransel yang mempunyai rangka, agar berat beban merata dan seimbang. Selain itu juga membuat kenyamanan karena adanya ventilasi antara tubuh/punggung dengan ransel.
Praktis, kantung-kantung tambahan serta pembagian ruangan akan memudahkan untuk mengambil barang-barang tertentu.
Nyaman, efisien, selain secara langsung ditentukan oleh desain ransel, juga banyak dipengaruhi cara menyusun barang (packing) kedalam ransel.
Tempatkanlah barang-barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan. Barang-barang yang relatif lebih ringan (sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan dibagian bawah.
Letakkan barang yang sewaktu-waktu diperlukan diletakkan dibagian atas atau diletakkan dikantung-kantung luar ransel (ponco, P3K, kamera, dll).
Kelompokan barang-barang dan masukkan kedalam kantung-kantung plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur / cadangan, pakaian dalam, buku-buku, dll.
Perencanaan Perbekalan
Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal, sering hujan, dsb)
Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perjalanan:
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d. Ringan, mudah didapat
e. Murah
Untuk dapat merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat-syarat diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah-langkah berikut :
Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan kondisi medan, aktifitas tubuh yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan jumlah kalori yang diperlukan.
Susun daftar makanan yang memenuhi syarat diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi dominan. Hidrat arang, protein, lemak, hitung masing-masing kalori totalnya (setelah siap dimakan).
Perhitungan untuk vitamin dan mineral dapat dilakukan terakhir, dan apabila ada kekurangan dapat ditambah tablet vitamin dan mineral secukupnya.
Catatan :
Kandungan kalori :
hidrat arang
4 kal/gr
lemak
9 kal/gr
protein
4 kal/gr
Kalori paling cepat didapat dari :
1. Hidrat arang
2. lemak
3. protein
Kebutuhan kalori per 100 pounds berat badan (sekitar 45 kg)
catatan : kadang tidak semua keperluan dibawa oleh anak2 gunung,dan semua keperluan tidak ada ukuran yang pasti karena itu tergantung dari jauh perjalanan dan medan yang harus kita tempuh!!
SISTEM PENDAKIAN
Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan berhasil.
Alpine System, adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying campsampai ke puncak
TEKNIK MENDAKI GUNUNG
Mendaki gunung pada dasarnya adalah olah raga berjalan. karenanya penguasaan teknik berjalan yang benar wajib diketahui terlebih dahulu.
berjalan di gunung tentu saja tak sama dengan berjalan di trotoar. Di gunung anda harus berjalan dengan beban di punggung, melintasi lembah, mendaki tebing, menuruni lereng-lereng, atau meniti punggungan-punggungan yang tipis. Dengan medan seperti itu ditambah dengan beban yang harus dibawa maka keseimbangan dalam berjalan di gunung adalah mutlak.
Seperti juga pejalan kaki yang lain, anda harus berjalan dalam satu irama yang tetap, dengan kata lain, tidak kaku seperti robot. Tidak ubah bagai seorang penari, berjalan di gunung pun punya seni tersendiri. Kalau seorang penari mempunyai kenikmatan tersendiri dalam melakukan gerakan-gerakannya, maka seorang pendaki yang berjalan dalam irama tertentu juga harus dapat merasakannya sebagai suatu kesenangan tersendiri pula.
Ada beberapa patokan yang harus diperhatikan dalam berjalan tentu saja melangkah, inilah hal pertama yang harus diperhatikan. Berjalanlah dengan langkah-langkah kecil, jangan memaksakan kaki untuk mlangkah terlalu lebar. Langkah-langkah yang terlalu lebar menyebabkan berat badan seringkali ditunjang oleh satu kaki saja karenanya keseimbangan badan pun gampang goyah. Dengan langkah-langkah yang kecil, berat badan dapat ditunjang secara mantap oleh kedua kaki. Perlu di ingat bahwa kaki bukan hanya untuk menahan berat badan, tetapi telah ditambah dengan berat barang yang ada dalam ransel. Dengan langkah-langkah kecil, gerakan nafas teratur, dan ini merupakan cara yang tepat untuk menghemat tenaga.
Bagi pendaki yang berpengalaman, berjalan dua atau tiga jam tanpa istirahat merupakan hal yang biasa. Tentu dibutuhkan kekuatan dan stamina yang cuma dapat diperoleh melalui latihan dan pengalaman yang tidak sedikit. Akan tetapi, sebagai ukuran minimal boleh dikatakan bahwa berjalan satu jam dengan istirahat sepuluh menit adalah normal.
Ketika istirahat, duduklah dengan kaki yang melonjor lurus sedikit di atas badan untuk mengembalikan darah supya mengalir normal, karena ketika badan berjaln seluruh darah telah berpusat di kaki. Teguklah minuman secukupnya dan makanlah beberapa makanan kecil. Usahakan agar tidak beristirahat di tempat berangin karena udara dingin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat, dapat menyebabkan terjadi kram pada otot.
Pilihlah lokasi istirahat yang baik. Secara psikologis lebih menguntungkan apabila anda memilih lokasi di bagian yang tinggi. Dari tempat ini akan tampak pemandangan yang indah, nikmatilah untuk mengurangi perasaab lelah setelah lama berjalan. Makan dan minum secukupnya untuk mengembalikan tenaga, kalau perlu di masak dulu agar hangat dan segar. Ada baiknya memakan sedikit garam untuk menghindarkn kram karena banyak keringat yang mengucur memungkinkan hilangnya garam dari tubuh. Membawa buah segar seperti apel, pir, anggur juga sangat membantu untuk mengembalikan tenaga. karena mengandung banyak air dan vitamin maka mengkonsumsi buah segar juga sangat membantu.
Ketika anda berjalan perhatikan betul medan yang dihadapi. Kalau melewati medan yang penuh kerikil dan batu-batui tajam, harap berhati-hati karena kaki mudah tergelincir jika ceroboh. Tidak berbeda apabila anda harus melintasi medan yang berbatu besar dan bulat seperti bebatuan pada sungai misalnya, anda harus melintasinya dengan melompat dari satu batu ke batu yang lain, yaitu dengan gerak sedemikian rupa cepatnya sehingga batu yang diinjak belum lagi sempat bergulir tetapi anda sudah melompat ke batu yang lain.
Cara di atas tentu saja berbahaya kalau kondisi anda sudah lelah. Cara lain yang lebih aman adalah dengan menaiki satu persatu batu tersebut, perlahan-lahan dengan memeriksa terlebih dahulu batu yang akan di injak, agar tak gampang bergulir nantinya. Cara mana sebaiknya yang akan dipakai, itu tergantung dari pengalaman dan tingkat kelelahan anda.
Medan yang berumput dan terjal seringkali membahayakan, terlebih ketika basah karena hujan atau embun. Pendaki yang tidak berhati-hati akan mudah tergelincir, terutama jika memakai sepatu yang tidak sesuai. Demikian pula dengan medan becek, berlumpur, licin dan berbahaya.
Jangan percaya pada pohon-pohon kecil di pinggir tebing. Pohon-pohon ini seringkali tidak cukup kuat untuk menahan bobot manusia, sehingga mudah tercabut. Batang-batang pohon itu banyak yang lapuk, lalu patah ketika anda menekalnya dan menahan badan di situ. Kalau tidak yakin betul, hanya gunakan pohon-pohon itu sebagai keseimbangan saja.
Mendaki di lereng gunung dengan tanah berpasir lebih sulit daripada di atas tanah keras. Setiap kali menjejak, tanah berpasir bisa melorot ke bawah. Anda kadang-kadang perlu menyepakkan kaki ke dalam tanah pasir itu agar tidak melorot. Orang kedua dan seterusnya dapat mengikuti bekas jejak orang pertama supaya tidak mudah lelah, karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih keras.
Berjalan di atas punggung dari sebuah tebing yang tipis dengan jurang menganga di sebelah kiri dan kanan merupaka kondisi kritis yang membutuhkan teknik tersendiri untuk mengulanginya. Angin kenang yang sering meniup akan menggoyahkan keseimbangan badan. Jangan melakukan gerakan-gerakan yang tiba-tiba dan membahayakan. Misalnya melempar batu atau mengayunkan tangan keras-keras. Berjalanlah dengan tenang dan penuh konsentrasi, tetapi tetap dalam irama yang teratur dan tidak kaku.
.BAHAYA DI GUNUNG
Dalam olahraga mendaki gunung ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya suatu pendakian.
1. Faktor Internal
Yaitu faktor yang datang dari si pendaki sendiri. Apabila faktor ini tidak dipersiapkan dengan baik akan mendatangkan bahaya subyek yaitu karena persiapan yang kurang baik, baik persiapan fisik, perlengkapan, pengetahuan, ketrampilan dan mental.
2. Faktor Eksternal
Yaitu faktor yang datang dari luar si pendaki. Bahaya ini datang dari obyek pendakiannya (gunung), sehingga secara teknik disebut bahaya obyek. Bahaya ini dapat berupa badai, hujan, udara dingin, longsoran hutan lebat dan lain-lain.
Kecelakaan yang terjadi di gunung-gunung Indonesia umumnya disebabkan faktor intern. Rasa keingintahuan dan rasa suka yang berlebihan dan dorongan hati untuk pegang peranan, penyakit, ingin dihormati oleh semua orang serta keterbatasan-keterbatasan pada diri kita sendiri.
KLASIFIKASI PENDAKIAN
Tingkat kesulitan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung dari pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih akan memiliki tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang baru berlatih.
Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi (berdasarkan Sierra Club) :
Kelas 1 : berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).
Kelas 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan (scrambling).
Kelas 3 : medan semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tetapi tali pengaman belum diperlukan (climbing).
Kelas 4: kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk anchor/penambat (exposed climbing).
Kelas 5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll), masih berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).
Kelas 6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada peralatan (aid climbing).
NAVIGASI TUTORIAL
Pendahuluan
Sebagai orang yang mengaku dekat dengan alam, pengetahuan peta dan kompas serta cara penggunaannya mutlak
dan harus dimiliki. Perjalanan ke tempat-tempat yang jauh dan tidak dikenal akan lebih mudah. Pengetahuan bernavigasi darat ini juga berguna bila suatu saat tenaga kita diperlukan untuk usaha-usaha pencarian dan
penyelamatan korban kecelakaan atau tersesat di gunung dan hutan, dan juga untuk keperluan olahraga antara lain
lomba orienteering. Navigasi darat adalah suatu cara seseorang untuk menentukan posisi dan arah perjalanan baik
di medan sebenarnya atau di peta, dan oleh sebab itulah pengetahuan tentang kompas dan peta serta teknik
penggunaannya haruslah dimiliki dan dipahami.
Peta
Secara umum, peta adalah penggambaran dua dimensi(pada bidang datar) keseluruhan atau sebagian dari
permukaan bumi yang diproyeksikan dengan perbandingan/skala tertentu. Peta sendiri, kemudian berkembang
sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya.Untuk keperluan navigasi darat umumnya digunakan peta topografi.
Peta Topografi
Berasal dari bahasa yunani, topos yang berarti tempat dan graphi yang berarti menggambar. Peta topografi memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis-garis kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Walaupun peta topografi memetakan tiap interval ketinggian tertentu, namun disertakan pula berbagai keterangan yang akan membantu untuk mengetahui secara lebih jauh mengenai daerah permukaan bumi yang terpetakan tersebut,dan keterangan-keterangan itu disebut legenda peta.
Legenda peta antara lain berisi tentang :
a. Judul Peta
Judul peta ada dibagian tengah atas. judul peta menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta yang bersangkutan,
sehingga lokasi yang berbeda akan mempunyai judul yang berbeda pula
b. Nomor Peta
Nomor peta biasanya dicantumkan diselah kanan atas peta. Selain sebagai nomor regisrtasi dari badan pembuat,
nomor peta juga berguna sebagai petunjuk jika kita memerlukan peta daerah lain disekitar suatu daerah yang
terpetakan. Biasanya di bagian bawah disertakan pula lembar derajat yang mencantumkan nomor-nomor peta
yang ada disekeliling peta tersebut.
c. Koordinat Peta
Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu,
yaitu garis-garis yang saling berpotongan tegak lurus. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua, yaitu :
1. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus terhadap katulistiwa, dan
garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan katulistiwa. Koodinat geografis dinyatakan
dalam satuan derajat, menit, dan detik.
2. Koordinat Grid
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Untuk
wilayah Indonesia, titik acuan nol terdapat disebelah barat Jakarta (60 derajat LU, 68 derajat BT). Garis vertikal
diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan garis horizontal diberi nomor urut dari barat ke timur.
Sistem koordinat mengenal penomoran dengan 6 angka, 8 angka dan 10 angka. Untuk daerah yang luas dipakai
penomoran 6 angka, untuk daerah yang lebih sempit digunakan penomoran 8 angka dan 10 angka (biasanya 10
angka dihasilkan oleh GPS).
d. Kontur
Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian sama dari permukaan laut, sifat-
sifat garis kontur adalah :
1. Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.
2. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi.
3. Garis kontur tidak berpotongan dan tidak bercabang.
4. Interval kontur biasanya 1/2000 kali skala peta.
5. Rangkaian garis kontur yang rapat menandakan permukaan bumi yang curam/terjal, sebaliknya yang renggang menandakan permukaan bumi yang landai.
6. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "U" menandakan punggungan gunung.
7. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "V" terbalik menandakan suatu lembah/jurang.
e. Skala Peta
Skala peta adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak
horizontal di lapangan. Ada dua macam cara penulisan skala, yaitu :
1. Skala angka, contoh : 1:25.000 berarti 1 cm jarak dipeta = 25.000 cm
(250 m) jarak horizontal di medan sebenarnya.
2. Skala garis, contoh: berarti tiap bagian sepanjang blok garis mewakili 1
km jarak horizontal.
f. Legenda Peta
Legenda peta biasanya disertakan pada bagian
bawah peta. Legenda ini memuat simbol-simbol
yang dipakai pada peta tersebut, yang penting
diketahui : triangulasi, jalan setapak, jalan raya,
sungai, pemukiman, ladang, sawah, hutan dan lainnya. Di
Indonesia, peta yang umumnya digunakan adalah peta keluaran
Direktorat Geologi Bandung, kemudian peta dari Jawatan
Topologi, atau yang sering disebut peta AMS (American Map
Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada
tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan
interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta
keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan
Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m).
Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.
g. Tahun Peta
Peta topografi juga memuat keterangan tentang tahun pembuatan peta tersebut, semakin baru tahun
pembuatannya, maka data yang disajikan semakin akurat.
h. Arah Peta
Yang perlu diperhatikan adalah arah Utara Peta. Cara paling mudah adalah dengan memperhatikan arah huruf-
huruf tulisan yang ada pada peta. Arah atas tulisan adalah Arah Utara Peta.Pada bagian bawah peta biasanya
juga terdapat petunjuk arah utara yaitu :
1. Utara sebenarnya/True North : yaitu utara yang mengarah pada kutub utara bumi.
2. Utara Magnetis/Magnetic North : yaitu utara yang ditunjuk oleh jarum magnetis kompas, dan letaknya tidak
tepat di kutub utara bumi.
3. Utara Peta/Map North : yaitu arah utara yang terdapat pada peta.
Kutub utara magnetis bumi letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara bumi. Karena pengaruh rotasi bumi,
letak kutub magnetis bumi bergeser dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, untuk keperluan yang menuntut
ketelitian perlu dipertimbambangkan adanya iktilaf(deklinasi) peta, iktilaf magnetis, iktilaf peta magnetis, dan
variasi magnetis.
1. Deklinasi Peta:adalah beda sudut antara sebenarnya dengan utara peta. Ini terjadi karena perataan jarak
paralel garis bujur peta bumi menjadi garis koordinat vertikal yang digambarkan pada peta.
2. Deklinasi Magnetis: Selisih beda sudut utara sebenarnya dengan utara magnetis
3. Deklinasi Peta magnetis:Selisih besarnya sudut utara peta dengan utara magnetis bumi.
4. variasi Magnetis:perubahan/pergeseran letak kutub magnetis bumi pertahun.
Mengetahui Ketinggian Suatu Tempat
Kadangkala kita dihadapkan pada kondisi dimana kita harus dapat menentukan ketinggian
suatu tempat,akan tetapi kita tidak mempunyai alat untuk menentukan
ketinggian(altimeter), hal itu dapat diatasi dengan cara :
-Lihat terlebih dahulu interval peta, lalu hitung ketinggian tempat yang ingin kita ketahui,
memang ada rumusan umum interval kontur= 1/2000 skala peta. tetapim rumus ini tidak selalu benar, beberapa
peta topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala 1:50.000 (interval kontur 25 m), tetapi
kemudian diperbesar menjadi berskala 1:25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter.
Pada suatu kondisi tertentu yang mendesak, misalnya SAR gunung hutan, sering kali peta diperbanyak dengan
cara di foto kopi. Untuk itu, interval kontur peta tersebut harus tetap ditulis. Peta keluaran Bakosurtanal
(1:50.000) membuat kontur tebal untuk setiap kelipatan 250 meter, atau setiap selang 10 kontur. Seri peta
keluaran AMS (skala 1:50.000) membuat garis kontur tebal untuk setiap kelipatan 100 meter. peta keluaran
Direktorat Geologi Bandung tidak seragam ketentuan ketebalan garis konturnya. Dengan demikian tidak ada
ketentuan khusus dan seragam untuk penentuan garis kontur tebal.
Bila ketinggian kontur tidak dicantumkan, maka kita harus menghitung ketinggian suatu tempat dengan cara :
1. Cari 2 titik berdekatan yang harganya tercantum
2. Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa kontur yang terdapat antara keduanya
(jangan menghitung kontur yang sama harganya bila kedua titik terpisah oleh lembah).
3. Dengan mengetahui selisih ketinggian kedua titik tersebut dan mengetahui juga jumlah kontur yang didapat,
dapat dihitung berapa interval konturnya (harus merupakan bilangan bulat).
4. Lihat kontur terdekat dengan salah satu titik ketinggian (bila kontur terdekat itu berada diatas titik, maka harga
kontur itu lebih besar dari titik ketinggian. bila kontur terletak dibagian bawah, harganya lebih kecil). Hitung
harga kontuir terdekat itu yang harus merupakan kelipatan dari harga interval kontur yang telah diketahui dari no
3. lakukan perhitungan diatas beberapa kali sampai yakin harga yang didapat untuk setiap kontur benar.
Cantumkan harga beberapa kontur pada peta anda agar mudah mengingatnya.
Titik Triangulasi
Selain dari garis kontur, Kita dapat dapat mengetahui tinggi suatu tempat dengan bantuan titk ketinggian. Titik
ketinggian ini biasanya titik Triangulasi, yaitu suatu titikatau benda berupa pilar/tonggak yang menyatakn tinggi
mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi digunakan oleh jawatan-jawatan topografi untuk
menentukan suatu ketinggian tempat dalam pengukuran ilmu pasti pada waktu pembuatan peta. Macam titik
triangulasi :
- Primer : P.14/3120 Kuarter : Q.20/1350
- Sekunder : S.75/1750 Tersier : T.16/975
Mengenal Tanda Medan
Di samping tanda medan yang terdapat pada legenda. Peta topografi biasa menggunakan bentuk-bentuk atau
bentang alam yang menyolok dilapangan dan mudah dikenali di peta, yang kita sebut tanda medan. Beberapa
tanda medan dapat anda "baca" dari peta sebelum anda berangkat ke lokasi, tetapi kemudian harus
ada cari dilokasi, tanda-tanda medan itu antara lain :
- puncak gunung atau bukit, punggungan gunung, lembah antara dua puncak, dan bentuk-bentuk
tonjolan lain yang menyolok.
- lembah yang curam, sungai, pertemuan anak sungai, kelokan sungai, tebing-tebing di tepi sungai.
- belokan jalan, jembatan (perpotongan sungai dengan jalan), ujung desa, simpang jalan.
- bila berada di pantai, muara sungai akan menjadi tanda medan yang sangat jelas , begitu juga tanjung yang
menjorok ke laut, teluk-teluk yang menyolok, pulau-pulau kecil, delta dan sebagainya
- di daerah daratan atau rawa-rawa biasanya sukar mendapatkan tonjolan permukaan bumi atau bukit-bukit yang
dapat dipakai sebagai tanda medan. Permukaan kelokan-kelokan sungai, cabang-cabang sungai, muara sungai
kecil.
- dalam penyusuran di sungai, kelokan tajam, cabang sungai, tebing-tebing, delta dan sebagainya dapat dijadikan
sebagai tanda medan.
Pengertian tanda medan ini mutlak untuk dikuasai. Akan selalu digunakan pada uraian selanjutnya tentang teknik
peta kompas.
Kompas
1. Guna Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah yang digunakan untuk mengetahui arah utara magnetis. Karena sifat
kemagnetannya, jarum kompas akan menunjuk arah utara-selatan (jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya
magnet lainnya selain magnet bumi). Tetapi perlu diingat bahwa arah yang ditunjuk oleh jarum kompas tersebut
adalah arah utara magnet bumi, jadi bukan arah utara sebenarnya.
Secara fisik, kompas terdiri atas : a) Badan, yaitu tempat komponen-komponen kompas lainnya berada; b) Jarum,
selalu mengarah ke utara-selatan bagaimanapun posisinya; c) Skala penunjuk, menunjukkan derajat sistem mata
angin.
2. Jenis-Jenis Kompas, dalam suatu perjalanan banyak macam kompas yang dapat dipakai, pada umumnya
dipakai dua jenis kompas, yaitu kompas bidik (misalnya kompas prisma) dan kompas orienteering (misalnya
kompas silva). Kompas bidik mudah untuk membidik, tetapi dalam pembacaan di peta perlu dilengkapi dengan
busur derajat dan penggaris. Kompas silva kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu
dalam pembacaan dan perhitungan di peta. Kompas yang baik pada ujungnya dilapisi fosfor agar dapat terlihat
dalam keadaan gelap.
3. Pemakaian Kompas,kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan magnet bumi.
Dalam memakai kompas, perlu dijauhkan dari pengaruh benda-benda yang mengandung logam, seperti pisau,
golok, karabiner, jam tangan dan lainnya. Kehadiran benda-benda tersebut akan mempengaruhi jarum kompas
sehingga ketepatannya akan berkurang.
Altimeter
altimeter merupakan alat pengukur ketinggian yang bisa membantu dalam menentukan
posisi. Pada medan yang bergunung tinggi, resection dengan menggunakan kompas
sering tidak banyak membantu, disini altimeter lebih bermanfaat. Dengan menyusuri
punggungan-punggungan yang mudah dikenali di peta, altimeter akan lebih
berperan dalam perjalanan, yang harus diperhatikan dalam pemakaian altimeter :
- setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi. Periksa ketelitian altimeter di
titik-titik ketinggian yang pasti.
- Altimeter sangat peka terhadap guncangan, perubahan cuaca, dan perubahan
temperatur.
TUTORIAL NAVIGASI 2
Teknik Peta Kompas
1. Orientasi peta
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (secara praktis menyamakan utara
peta dengan utara magnetis). Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada
dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bikit, sungai,
atau tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihat dan mencocokkan
dengan gambar kontur yang ada dipeta, untuk keperluan praktis, utara magnetis dianggap sejajar dengan utara
sebenarnya, tanpa memperlitungkan adanya deklinasi. Langkah-langkah orientasi peta :
a) Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok; b) Letakkan peta pada bidang
datar; c) Letakkan kompas diatas peta dan sejajarkan antara arah utara peta dengan utara magnetis/utara kompas,
dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi. d) Cari tanda-tanda medan yang
paling menonjol disekeliling dan temukan tanda medan tersebut dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan. e)
Ingat tanda medan itu, bentuknya dan tempatnya dimedan sebenarnya maupun dipeta, ingat-ingat tanda medan
yang khas dari setiap tanda medan.
2. Azimuth dan Back Azimuth
Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol derajat) dengan titik/sasaran yang kita tuju,azimuth juga
sering disebut sudut kompas, perhitungan searah jarum jam. Ada tiga macam azimuth yaitu : a) Azimuth
Sebenarnya,yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran; b) Azimuth
Magnetis,yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran; c) Azimuth Peta,yaitu besar sudut
yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.
back Azimuth adalah besar sudut kebalikan/kebelakang dari azimuth. Cara menghitungnya : bila sudut azimuth
lebih dari 180 derajat maka sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth kurang dari 180 derajat maka
sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth = 180 derajat maka back azimuthnya adalah 0 derajat
atau 360 derajat.
3. Resection
Resection adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang
dikenali. Teknik resection membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak
selalu tanda medan harus selalu dibidik, jika kita berada di tepi sungai, sepanjang jalan, atau sepanjang suatu
punggungan, maka hanya perlu satu tanda medan lainnya yang dibidik. Langkah-langkah resection :
a) Lakukan orientasi peta; b) Cari tanda medan yang mudah dikenali dilapangan dan di peta, minimal dua buah; c)
Dengan penggaris buat salib sumbu pada pusat tanda-tanda medan itu; d)Bidik dengan kompas tanda-tanda
medan itu dari posisi kita,sudut bidikan dari kompas itu disebut azimuth; e) pindahkan sudut bidikan yang didapat
ke peta, dan hitung sudut pelurusnya; f) perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah
posisi kita di peta
4. Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di pet dengan menggunakan dua atau lebih tanda
medan yang dikenali dilapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda
yang terlihat dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai. Pada intersection, kita sudah yakin pada posisi kita di peta.
Langkah-langkah melakukan intersection : a) lakukan orientasi medan, dan pastikan posisi kita; b)bidik obyek
yang kita amati; c) pindahkan sudut yang kita dapat dipeta; d) bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut
di peta, lakukan langkah b dan c; e) perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi
obyek yang dimaksud.
5. Koreksi sudut
Pada pembahasan utara telah dijelaskan bahwa utara sebenarnya dan utara kompas berlainan. Hal ini sebetulnya
tidaklah begitu menjadi masalah penting jika selisih sudutnya sangat kecil, akan tetapi pada beberapa tempat,
selisih sudut/deklinasi sangat besar sehingga perlu dilakukan perhitungan koreksi sudut yang didapat dari
kompas(azimuth)yaitu :
A. Dari kompas (K) dipindahkan ke peta (P): P= K +/- (DM +/- VM)
B. Dari peta( P) dipindahkan ke kompas (K): K= P +/- (DM +/- VM)
Keterangan:
Tanda +/- diluar kurung untuk DM (deklinasi magnetis/iktilaf magnetis)
= dari K ke P: DM ke timur tanda (+), DM ke barat tanda (-) = dari P ke K: DM ke timur tanda (-), DM ke barat
tanda (+)
Tanda +/- di dalam kurung untuk VM (variasi magnetis)
=tanda (+) untuk increase/naik; tanda (-) untuk decrease/turun.
Contoh Perhitungan:
Diketahui sudut kompas/azimuth 120 derajat, pada legenda peta tahun 1942 tersebut: DM 1 derajat 30 menit
ketimur, VM 2 menit increase, lalu berapa sudut yang akan kita pindahkan ke peta?
P= K=+/- (DM +/- VM) ingat! kompas ke peta, DM ke timur VM increase
Simbol coklat digunakan untuk bentukan tanah seperti garis kontur, retakan tanah, bukit kecil.
Biru digunakan untuk bentukan air: danau, kolam,sungai, jeram,rawa-rawa.
Kuning untuk menampilkan vegetasi - khususnya untuk tanah terbuka tanpa hutan. Kepadatan dari
warna kuning menunjukkan : warna kuning terang untuk padang rumput, kuning pucat untuk padang
rumput dengan rumput yang tinggi.
Hijau digunakan untuk menunjukkan vegetasi yang menghambat pergerakan dari seorang orienteer.
Daerah yang berwarna paling hijau, disebut "fight", yang hampir tidak mungkin untuk dilalui.
Putih di peta orienteering menunjukkan hutan dengan sedikit atau tanpa tanaman dibawah pohon - hutan
yang dapat dilaluio oleh orienteer dengan mudah.
Ungu (atau merah) digunakan untuk menandai jalur orienteering di peta. Kondisi yang spesifik untuk
kegiatan orienteering (seperti tempat untuk outbound dimana tanaman pertanian tumbuh) juga didesain
dengan warna merah.
SIMBOL PETA ORIENTEERING
Bentukan Tanah
Bentukan Air
Tampilan Garis
Bangunan Buatan Manusia
Bentukan Batuan
Vegetasi
Sebuah Jalur Orienteering
Sebagian besar jalur orienteering adalah titik-titik yang beraneka ragam, dengan start,
yaitu sebuah rangkaian dari kontrol yang harus didatangi dan telah dirancang secara
berurutan, dan finish. Biasanya orienteer tidak melihat peta dan jalur sampai sesaat
sebelum dimulai start. Bagaimanapun, pada lomba tingkat lokal yang kecil, petanya
mungkin sudah akrab, dan para orienteer dapat mengkopi jalur ini dari peta induk
sebelum di mulai lomba. Ada beberapa jalur-jalur yang tersedia pada satu pertandingan.
Penggolongan dimulai dari putih (jalur pendek untuk pemula) kemudian kuning, oranye,
hijau, coklat, merah dan biru (jalur yang panjang untuk ahli).
Ini adalah contoh dari jalur pemula. Peta ini memiliki 4 kontrol yang harus didatangi
secara berurutan yang mana kontrol tersebut saling berhubungan dan diberi nomor,
walaupun orienteer tidak dipaksa untuk mengikiti garis (hal ini lebih mudah untuk keluar
sedikit dari jalan yang telah ditentukan dan menggunakan jalan setapak). Dengan jalur
yang menjadi sebuah lembaran petunjuk, menjelaskan lokasi yang tepat dari bendera
kontrol di dalam lingkaran pada peta.
Lembaran petunjuk pada jalur ini adalah:
PUTIH 3.5 km , menanjak 75 m
Start: pojok dari peta
1 BL persimpangan jalan
2 JC percabangan sungai
3 PG ujung barat daya dari hutan
4 MP barat daya akhir dari bukit kecil
5 BL bagian atas dari lembah kecil
Finish: Pojok timur laut dari gedung (350 m)
Penjelasan petunjuk:
Nomor dari kontrol (tampak pada peta)
Kode kontrol (biasanya dua huruf) yang akan dipasang pada bendera di lokasi yang sebenarnya
Deskripsi dari ciri-ciri kontrol, termasuk(secara tepat) bagian dari ciri-ciri dimana bendera digantung.
Karena deskripsi lisan menjadi agak berubah-ubah, sebaiknya spesifik ke bahasa dari penyelenggara kegiatan,
para orienteer yang lebih maju menggunakan sistem dari simbol untuk meberi definisi petunjuk. Simbol petunjuk
saling berhubungan tetapi mirip dengan simbol peta, dan sistem simbol petunjuk internasional sangat berguna
untuk dipelajari untuk kemajuan seorang orienteer di luar tahap pemula.
Sekilas Tentang Orienteering
Orienteering berarti peta, hutan dan petualangan. tidak menjadi masalah
apakah itu orang muda ataupun tua. anda dapat berlari dengan cepat, berlari
dengan pelan ataupun berjalan. Anda dapat memulainya sesuai dengan
keinginan dan memilih rute anda sendiri antara marker/tanda merah atau
putih. Jika anda ingin sesuaitu yang menyenangkan, udara segar,
menjelajahi wilayah pedesaan - orienteering dapat menjadi olahraga yang
cocok bagi anda!
apakah orienteering? Orienteering adalah olahraga dimana pesaing nenentukan arahnya sendiri antara titik kontrol
atau khususnya yang tergambar di peta. Ada berbagai macam orienteering, yang paling umum adalah orienteering
dengan berjalan kaki. Untuk kegiatan ini, jalur membentang sepanjang kurang lebih 2 km untuk pemula dan anak-
anak sampai 12 km untuk orienteer dewasa yang sudah berpengalaman. Pada beberapa kegiatan orienteering ada
beberapa jalur untuk pemula dan untuk yang sudah ahli. Banyak Kegiatan orienteering di mulai pada kegiatan
yang diberi kode warna (C4).
Mengapa Melakukan Orienteering? Orienteering mengambil lokasi di berbagai tempat di alam terbuka, dari
taman kota sampai pedesaan hutan dan moorlands. Anda dapat menikmati pemandangan pedesaan, yang
kadangkala belum pernah anda kunjungi, hal ini mudah, jalan yang tidak melelahkan menjadi tetap bugar.
d Orienteering adalah olah raga yang sempurna untuk pelajar. Karena mempunyai jalur yang menantang untuk
segala usia dan kemampuan, dan dapat digunakan sebagai elemen di kurikulum nasional untuk IPA, Geografi dan
Mathematika. Orienteering adalah sebuah aktivitas yang dapat dilakukan di halaman sekolah sama baiknya
dengan di daerah pedesaan.
Pemilihan Jalur pada Orienteering
Navigasi pada orienteering dapat dibagi dalam dua faktor:
memilih satu dari beberapa rute yang mungkin untuk mencapat kontrol point
menemukan jalan anda sendiri sepanjang rute
Sekali anda belajar beberapa teknik dasar orienteering dan teknik navigasi, anda akan selalu dapat menemukan
kontrol - jika peta yang diberikan akurat. Oleh karena itu, banyak perbedaan waktu individual dapat terjadi karena
pemilihan rute. Ini memang benar adanya ketika kecepatan melewati wilayah bervariasi secara dramatis di tempat
yang berbeda-beda, yang mana dapat terjadi oleh banyak alasan:
jalan setapak di hutan lebih cepat dilewati
vegetasi dipeta yang berwarna hijau dapat memperlambat perjalanan
jalan menanjak dan kemudian menurun mungkin lebih lambat dibandingkan jalan mendatar
jalur lebih cepat yang potensial mungkin tanpa bantuan navigasi, ketika rute yang lebih panjang/pendek
menyediakan pendekatan navigasi yang mudah ke titik kontrol.
Faktor lain adalah tiap-tiap individu mungkin mempunyai kekuatan yang berbeda-beda; seorang mungkin berlari
sangat cepat di jalan setapak, tetapi lambat secara drastis ketika masuk hutan; yang lain mungkin tidak
mempunyai kecepatan yang baik, tetapi tangguh ketika jalan menanjak; yang lain lagi mungkin tidak punya
kepercayaan diri dalam kemampuannya membaca kompas, tetapi mungkin sangat baik dalam hal membaca
kontur. Jalur terbaik untuk pemula mungkin bukan jalur terbaik unruk para orienteer yang ahli.
Pilihan rute yang diberikan pada lomba diantara titik-titik kontrol mungkin mempunyai banyak solusi pilihan
jalur yang terbaik. Tetapi, solusi jalur yang terbaik mungkin tidak menguntungkan ketika seorang orienteer tidak
merencanakannya secara cermat.
Sebagai contoh, peta diatas dimana didalamnya terdapat pilihan jalur/rute dan variasi-variasinya yang diberikan
kepada orienteer papan atas pada Kejuaraan Nasional swedia beberapa tahun yang lalu. Tiap jalur orienteer
ditampilkan oleh satu garis merah, dan tempat dimana beberapa individu memakai jalur yang sama, nomor
berwarna merah ditampilkan berapa banyak orienteer mengikuti beberapa
bagian dari jalur. Beberapa tempat tidak bisa dilewati karena tanaman
pertanian sedang tumbuh dan ditandai dengan silang merah.
Meskipun ini mungkin contoh yang ekstrem, hal ini menunjukkan variasi
dari jalur (dan kombinasi subset dari jalur) yang dapat terjadi pada single
leg.
Tipe-Tipe Kompas
Kompas yang baik mempunyai cairan yang terdapat di dalamnya; cairan
tersebut mengatur gerakan dari jarum, sehingga anda dapat menggunakan
kompas dengan baik walaupun memegangnya kurang dengan sempurna.
Jangan membeli kompas yang murah tetapi tanpa cairan yang terdapat di
dalamnya. Jarum kompas diwarnai dalam dua warna. Jika kompas
digenggam secara benar (mendatar), ujung warna merah mengarah ke utara,
dan putih mengarah ke selatan. An interesting detail is that there are
northern- and southern-hemisphere compasses. This has to do with the fact
a compass needle aligns, point into the earth at the north and south
magnetic poles. Ketika anda menggunakan kompas utara hemispher di, katakanlah, austeralia, arah selat
magnet mengarah kebawah oleh medan magnet, dan juga lebih berat dibanding arah utara - hasil di jarum yan
dapat ditangkap dan ditarik pada dasar kompas ketika kompas diletakkan secara horizontal. When you use
northern hemisphere compass in, say, Australia, the south end of the magnet is pulled downwards by the magnetic
field, and is also heavier than the north end - resulting in a needle that catches and drags on the bottom of the
compass housing when the compass is held horizontal.
A good compass will last a long time. However, some things can go wrong with a compass: the plastic
components can break, or the housing can develop a leak. Over time, the fluid within the housing may turn an
opaque blue-green. And, very rarely, the magnetization of the compass needle may reverse, so that the south end
now points to north.
Ada Dua Tipe Kompas Orienteering :
baseplate atau kompas protractor
that the magnetic field lines, to which
an dari
g
a
Kompas tipe ini ditemukan oleh Kjellstrom bersaudara semasa perang dunia II dan terdiri atas sebuah rectangular
baseplate, yang ditandai dengan panah warna merah sepanjang axis, dan lingkaran kompas ditandai derajat
(hampir di seluruh dunia untuk lingkaran penuh adalahy 360 derajat , tetapi sebagian belahan eropa menggunakan
400 derajat). Tanda dibagian dasar rumah kompas adalah sebuah panah dan
sebuah garis paralel di dalam panah tsb. tampilan tambahan mungkin
termasuk lanyard untuk memasang kompas di pinggang, garis skala untuk
ukuran jarak peta sepanjang satu atau lebih ujung dari baseplate, sebuah
cermin untuk membaca peta secara detail, dan lubang berbentuk lingkaran
dan segitiga untuk menandai jalur orienteering diatas peta.
Kompas Jempol / Ibujari
Di pertengahan tahun 1980 an, sebuah organisasi orienteering top dari Swedia
membuat terobosan untuk mengganti kompas baseplate dengan mempertajam
baseplate dan membuat lubang untuk memasang kompas tsb di jempol.
Kompas ini lalu dipasang di jempol tangan kiri, diletakkan di atas kompas
yang juga dipegang dengang tangan kiri pula. Keuntungan dari sisitem ini adalah peta dan
kompas selalu di baca dalam satu unit, peta menjadi lebih mudah di baca dan cepat,
ditambah satu tangan bebas bergerak; kekurangan adalah sudut yang sangat akurat sesuai
dengan sudut kompas sangat sulit diambil. Kesukaan seseorang biasanya menentukan
pemakaian tipe kompas yang akan dipakai; kejuaraan dunia memperbolehkan penggunaan
kedua tipe kompas tersebuat.
Menggunakan tipe kompas yang lain, ada dua skill dasar yang dibutuhkan seorang orienteer
:
Membaca Peta
Mengambil Sudut
Menggunakan kompas untuk membaca peta
Ini adalah teknik yang sederhana, dan ini mungkin kegunaan kompas yang paling penting :
Pegang kompas secara horizontal.
Letakkan kompas mendatar di atas peta.
putar peta sampai "garis utara" dari peta sejajar/satu garis lurus dengan jarum kompas.
Arah peta sekarang sudah sama dengan medan yang sebenarnya. Ini membuat lebih mudah dibaca, seperti
membaca tulisan akan lebih mudah dari atas ke bawah.
Mengambil sudut
Setiap arah dapat dinyatakan sebagai sebuah sudut dengan acuan arah utara. di dalam kemiliteran atau
kepramukaan, ini dinamakan sebuah "azimuth", dan sudut-sudutnya dinyatakan oleh angka dengan satuan derajat.
Orienteer mempunyai cara yang mudah, hanya mengatur sudut pada kompas mereka dan menjaga jarum tetap dan
tidak berubah, yang mana akan membawa mereka ke arah yang di tuju. Cara mudah mengatur arah pada kompas
orienteering adalah :
letakkan kompas di atas peta sehingga jarum kompas mengarah ke atas sesuai dengan jalan yang ingin
anda tuju
putar rumah kompas sehingga jarum kompas paralel dengan arah utara yang terdapat di peta (pastikan
titik panah utara dan bukan selatan)
take the compass off the map and hold it in front of you so that the direction of travel arrow points
directly ahead of you
rotate your body until the compass needle is aligned with the arrow on the base of the compass housing
pick out a prominent object ahead of you along the direction of travel, go to it, and repeat the process
(this way you can detour around obstructions but still stay on your bearing)
<>
melihat tanpa pilih tadi menuju Berjalanlah anda. tujuan belukar) semak atau tebing pohon, (misalnya medan di
ada>
Bagaimana anda tahu telah menemukan titik kontrol?
Bendera titik kontrol ditandai dengan lingkaran di peta. Bendera titik kontrol ini biasanya buatan pabrik
digantung pada sebuah kotak segitiga seperti layang-layang dengan kerangka dari kawat. Tiap tiga segi empat
bagian sisi-sisinya terbagi menjadi dua warna, segitiga bagian atas berwarna putih dan segi tiga bagian bawah
berwarna oranye. Di Amerika Utara, bendera biasanya digantung pada cabang pohon atau
kayu dekat titik kontrol, sedangkan di Eropa bendera biasanya digantung di tiang kayu atau
taing logam yang ditancapkan kedalam tanah.
Ditempelkan atau diletakkan dekat bendera kontrol satu atau lebih dan sebuah kartu dengan
" kode kontrol". Tiap bendera ditandai dengan kode kontrol yang unik dan tidak ada yang
sama, biasanya terdiri atas kombinasi dua huruf (angka boleh digunakan, tetapi aturan
internasional menyatakan bahwa angka 1-40 tidak diperbolehkan untuk kode kontrol).
Kode-kode ini biasanya terdaftar pada petunjuk yang menjelaskan kontrol pada tiap jalur,
dan banyak orienteer menulis kode kontrol di kotak koresponden pada kartu kontrol, untuk
memastikan bahwa mereka tidak melobangi kontrol yang salah atau pada kotak yang salah dari kartu pelobang. .
Bagaimana anda membuktikan jika telah mengunjungi titik kontrol?
Pelobang diletakkan atau digantung dekat bendera kontrol. Pelobang untuk orienteering adalah alat dari pastik
berwarna merah terang dengan nomor dari gigi logam yang tajam. Orienteer menggunakan pelobang ini dengan
menekan gigi logam yang mempunyai tanda tertentu pada kartu kontrol, di kotak koresponden pada titik kontrol
yang sedang dikunjungi. Ketika titik kontrol telah dikunjungi oleh beberapa peserta, ketika titik kontrol
digunakan oleh beberapa jalur yang berbeda, beberapa alat pelobang, semua menggunakan dengan tanda yang
sama.
Pada garis finish, orienteer memberikan kartu kepada panitia, yang kemudian mengecek apakah pelobangan kartu
kontrol sesuai dengan nomor kontrol tersebut.
kartu Kontrol
Kartu kontrol dapat terdiri dari banyak bentuk, tetapi yang paling penting
didalamnya terdapat kotak nomor untuk dilobangi. Untuk hampir semua
lomba orienteering, start dimulai secara per individu atau berkelompok,
sehingga tidak ada dua orang atau kelompok pada titik start pada waktu
yang sama. Tujuannya adalah agar tiap individu melakukan navigasinya
sendiri; mengikuti peserta yang lain dilarang dalam peraturan.
Kejuaraan orienteering dunia dan beberapa kejuaraan nasional berdasarkan
pada satu race. akan tetapi, pada kejuaraan orienteering Amerika Utara
biasanya menggunakan dua jalur yang terpisah yang dilaksanakan selama
dua hari (kadang dengan peta yang terpisah pula) total point tertinggi dan
waktu tercepat selama dua hari akan menentukan pemenang, dan kejuaraan
dunia yang terbesar, Sweden's O-Ringen, adalah lomba yang dilaksanakan
selama 5 hari dengan pemenang ditentukan oleh total waktu tercepat.
Banyak lomba termasuk variasi jalur dari tingkat pemula (navigasinya
mudah, sekitar 3 km) sampai kategori tertinggi (sukar, sekitar 10 km). Kejuaraan yang lebih besar juga akan
mempunyai kelas yang berbeda untuk pria dan wanita, dan juga untuk kelompok umur yang berbeda.
Daftar Istilah Orienteering
Aiming Off - tindakan dengan sengaja menuju satu sisi dari titik kontrol atau tempat sehingga anda sudah tahu jalan
singkat atau berputar untuk mencapai kontrol sebelum anda melihat titik kontrol tsb.
attack Point - sebuah tampilan alam dekat dengan titik kontrol yang dapat di temukan tempatnya dengan navigasi yang
cermat dengan menggunakan peta dan kompas.
Sudut Kompas - arah perjalanan yang diketahui melalui kompas.
Catching Feature (juga dinamakan Collecting Feature atau Backstop)- sebuah tampilan di peta dan di alam yang terletak
di luar titik kontrol atau atau setelah melewati titik kontrol yang mengindikasikan bahwa target telah terlewati.
Cek Poin - sebuah tampilan di peta atau tanah yang dapat digunakan bahwa anda masih berada pada rute pilihan anda.
Kontur - garis di peta topografi yang menghubungkan tempat-tempat yang berketinggian sama dari permukaan laut.
Kontrol/ Kontrol Marker/ Marker- sebuah marker berbentuk segi empat (biasanya berwarna oranye atau merah dan putih)
digunakan untuk menandai suatu titik di sebuah jalur orienteering, biaasanya dengan stempel atau pelobang yang
terpasang untuk menandai kartu kontrolsebagai bukti kedatangan peserta.
Kartu Kontrol- sebuah kartu yang dibawa oleh setiap peserta, dimana akan distempel atau ditandai pada tiap titik kontrol
untuk membuktikan kedatangan peserta.
Lingkaran Kontrol - sebuah lingkaran yang digambar mengelilingi titik kontrol di peta untuk mengindikasikan lokasi dari
sebuah titik kontrol. Titik kontrol harus benar-benar berada ditengah-tengah lingkaran.
Kode Kontrol - huruf atau angka pada tanda kontrol yang memungkinkan peserta untuk mengecek ulang bahwa titik
tersebut adalah benar.
Deskripsi Kontrol - daftar yang diberikan kepada tiap peserta yang sangat jelas menerangkan tiap titik kontrol. dan juga
diberikan kode kontrol.
Bentuk Kontrol - suatu tampilan alam atau buatan manusia dimana kontrol tersebut digantungkan.
Tanda Kontrol - see control.
Nomor Kontrol - angka yang digambarkan disamping tiap lingkaran kontrol di peta. Pada jalur lintas alam, nomor
kontroltersebut adalah titik yang wajib didatangi. bagian atas dari angka harus mengarah keatas.
Pelobang Kontrol - pelobang dari plastik kecil dengan desain berbeda dari pin. Digunakan untuk membuktikan tiap titik
kontrol telah didatangi.
Jalur - sebuah rangkaian dari kontrol yang terdapat di peta yang akan didatangi oleh peserta orienteering.
Jalur Lintas Alam - jalur klasik yang digunakan untuk hampir sebagian besar kompetisi. Titik kontrol wajib didatangi oleh
tiap peserta.
Dog-Leg - penempatan posisi dari sebuah kontrol yang favors approaching dan meninggalkan sebuah kontrol dari rute
yang sama, untuk mendahului pesaing yang lain mencapai titik kontrol. Desain jalur yang menghasilkan dog-leg sebaiknya
jangan digunakan.
Orienteering Murni - penggunaan navigasi yang sangat teliti di wilayah yang detil biasanya tergantung penggunaan
kompas, kompas dan penghitung langkah, dan biasanya menggunakan jalur pendek.
Simbol Finish - sama juga dengan lokasi titik start:
Jika lokasinya terpisah dengan titik start:
Melipat Peta - orienteer melipat peta mereka untuk membantu konsentrasi, hanya terpusat pada daerah yang mereka
hadapi, dan untuk mempermudah menentukan posisi mereka.
Handrail - Sebuah garis lurus yang mendekati paralel rute anda dan berfungsi sebagai acuan untuk titik berikutnya.
Knoll- sebuah bukit kecil.
Leg - sebuah bagian dari jalur diantara dua titik kontrol.
Legenda Peta - sebuah daftar dari simbol yang terdapat pada peta.
Tampilan Garis - sebuah tampilan yang mengarah pada satu tempat atau arah untuk jarak yang sama misalnya: jalan
setapak,selokan, dindning batu, dan aliran air. digunakan sama seperti handrail.
garis Lomba - lomba dimana peta ditandai dengan sebuah garis yang mengindikasikan rute yang sebenarnya yang harus
dilalui. Peserta menandai lokasi yang tepat dari tiap kontrol yang mereka temukan sepanjang jalur.
Orientasi Peta - membandingkan kondisi di peta dengan keadaan yang sebenarnya di alam. Ini adalah ketrampilan
mendasar di orienteering, dan berpengaruh terhadap keberhasilan navigasi. Peta dapat diorientasikan hanya dengan
membandingkan keadaan peta dengan wilayah atau dengan menggunakan kompas untuk menentukan arah utara.
Peta Induk/Master Map - sebuah peta yang dipasang dekat titik start yang mana peserta dapat mengkopi jalur mereka
kedalam peta kosong yang mereka buat. banyak orienteer yang berpengalaman akan mengkopi jalur kedalam peta mereka
ketika lomba sudah berjalan. Walaupun mereka diperbolehkan melakukannya sebelum waktu start di mulai. Di lomba yang
lebih besar, jalur sudah dicetak di dalam peta yang akan peserta gunakan.
Penghitung Langkah - sebuah sistem dengan menghitung dua langkah (setiap kali kaki kiri atau kanan menapak tanah)
untuk mengukur jarak yang telah dilalui. Seorang orienteer akan mengukur jarak antara dua titik dengan menggunakan
skala pada kompas dan lalu menghitung langkah mereka sampai jarak sudah tersebut sudah tercapai. Penghitung langkah
membantu seorang orienteer untuk mengetahui ketika mereka mungkin berjalan terlalu jauh atau kehilangan titik kontrol
yang mereka cari.
Tampilan Titik - sebuah tampilan di alam yang hanya mencakup wilayah yang kecil. Contoh di peta adalah boulders, pits
dan mounds, stumps, dan root mounds. Mereka tidak dapat sebagai tempat kontrol untuk sebuah jalur tanpa mereka
berada di handrail.
Sudut Kompas yg Cermat - beberapa kompas dapat digunakan untuk mengambil sudut kompas yang teliti (searah jarum
jam dari utara) yang mana dapat dijadikan patokan di alam terbuka
Pelobang - tindakan untuk menandai kartu kontrol dengan melobangi katru kontrol yang mereka bawa.
Reentrant- sebuah lembah kecil yang menurun kearah kaki bukit. Sebuah sungai memotong kaki bukit yang menciptakan
sebuah tipe bentuk reentrant. pada sebuah peta, garis kontur didiskripsikan sebuah titik reentrant dipuncak bukit.
Sudut Keselamatan/savety bearing - sebuah sudut kompas yang, jika diikuti, akan membuat orienteer yang tersesat
kejalan atau tempat utama lain. Ini mungkin dapat ditambahkan ke dalam daftar deskripsi kontrol sebagai jalur
keselamatan.
Peluit Keamanan - sebuah peluit yang dapat digunakan jika peserta terluka atau tersesat. International Distress Signal
adalah enam (6) tiupan pendek diulang selama interval satu (1) menit.
Skor/Nilai - peserta mendatangi beberapa titik kontrol semampu mereka dalam waktu yang telah ditentukan, misalnya 30
menit. Jika jaraknya bertambah atau titik kontrolnya sulit dicapai maka nilainya akan lebih tinggi dibanding dengan yang
lebih dekat atu lebih mudah di jangkau. Nilai akan dipotong untuk tiap kelipatan waktu ketika orienteer telah melebihi batas
waktu yang disediakan, misalnya 5 angka setiap peserta terlambat satu menit.
Spur - sebuah lembah kecil.
Start Event - sebuah lonba di mana peserta harus kembali ke start diantara tiap titik. Ini dapat digunakan untuk relay
events atau untuk keselamatan dan komunikasi dengan panitia tetap terjaga.
Simbol Start -a segi tiga yang digunakan untuk menunjukkan tempat start di peta. Ini seharusnya benar-benar berada
ditengah peta sebagai tempat pemberangkatan, dan satu titik diatasnya adalah titik kontrol pertama.
Jalur Terbatas - sebuah jalur yang selalu dibatasi dengan string line (berupa tali, pagar, tulisan dll). Jalur ini biasanya
digunakan untuk anak-anak untuk mengakrabkan mereka dengan hutan.
Thumbing - sebuah cara memegang peta, menggunakan ibu jari anda untuk menentukan lokasi anda sekarang. Untuk
melakukan ini dengan benar, anda harus melipat peta sehingga yang tampak hanya daerah lokasi anda sekarang
Sebelum melakukan perjalanan di alam bebas
Sebelum kita melakukan perjalanan hendaklah selalu memikirkan rencana adangan jika terjadi sesuatu yang buruk. misalnya apa yang dilakukan jika perjalanan tertunda, jika tersesat, jika cedera, dan apakah kita merasa siap untuk mengantisipasi semua itu.
Kemampuan berrnavigasi sangatlah diperlukan, pelajarilah dasar-dasar penggunaan peta dan kompas. Belajarlah dengan semua media yang ada seperti buku, internet, peta topografi, dan media yang lain. Belajarlah dengan orang yang mengerti cara membaca peta topografi dan penggunaan kompas, ajaklah dia untuk seatu perjalanan alam bebas dan belajarlah semaksimal mungkin.
“bermainlah” di alam bebas walaupun hanya perjalanan seharian kemudian pelajarilah jalur yang baru saja anda lewati dalam peta di rumah. Jika anda melakukannya tidak dalam keadaan tertekan, maka akan memudahkan anda untuk lebih terbiasa dan nyaman dengan keunikan garis kontur dari suatu peta topografi.
Suatu hal yang sangat penting ketika anda melakukan suatu perjalanan alam bebas, beritahukan kepada seseorang jalur yang akan anda lewati, fotokopi peta anda kemudian plot rencana jalur anda (minimal point start), kemudian berikan kepada saudara, teman, atau petugas basecamp setempat. Jika anda merubah jalur semula, sebelum memulai perjalanan beritahukan kepada mereka. Hal ini sangat berguna dalam pencarian jika nantinya anda tersesat.
Selama Dalam Perjalanan
Selain perlengkapan dasar, bawalah bohlam lampu senter cadangan, pensil atau bolpen, dan makanan darurat, berjanjilah kepada diri anda sendiri untuk tidak memakannya jika anda lapar selama masih ada makanan di awal perjalanan anda.
Cek selalu peta yang anda bawa, meskipun anda berada dalam jalur pendakian, ingatlah selalu dan rasakan bagaimana keadaan kontur di sekeliling anda.
Tetaplah selalu bersama-sama!!! Jika salah satu dari anggota anda terpisah, maka ia dapat dengan mudah keluar dari jalur yang semestinya dan tersesat.
Bawalah peluit dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau misalnya diikatkan pada tali punggung tas sehingga mudah untuk diraih.
Bawalah alat penunjuk waktu sehingga anda dapat selalu mengetahui waktu. Hindarilah percaya diri yang berlebihan. Beberapa orang percaya tersesat hanya terjadi pada orang lain. Buang jauh-jauh ego anda dan biasakan untuk mengecek ulang posisi anda dan sadarilah dimana seharusnya anda berada. Ketika anda menjumpai bentang alam yang menonjol seperti percabangan jalan, jembatan, atau tempat peristirahatan, cobalah untuk mencari lokasinya dalam peta. Ini akan lebih membuat anda yakin dimana anda berada.
survival
Survival adalah suatu usaha untuk mempertahankan diri dari suatu situasi dan kondisi yang mengancam keselamatan. Jika kita berhasil keluar dari situasi dan kondisi tersebut berari kita survive (mampu mempertahankan diri). Subyek yang melakukan nya disebut survivor.
Situasi dan kondisi yang mengancam keselamatan tersebut tidak pernah kita harapkan ketika resiko-resiko tersebut tidak terprediksikan dan hambatan-hambatan tidak bisa kita atasi, tak ada jalan lain, agar kita bisa survive seharusnya kita mengerti akan teknik survival.
beberapa hal yang diperlukan dalam survival antara lain :
1. Jangan panik, kuasai diri, jangan cemas
2. Berfikirlah secara jernih dan logis
3. Periksalah apa yang kita miliki pada saat itu
4. Rencanakan sesuatu
5. Bertindaklah dengan tenang dan taktis
Inti dari hal-hal di atas adalah bagaimana kita dapat mengikuti alur situasi yang sedang berlangsung, tanpa dikendalikan oleh situasi tersebut.
Tindakan Dalam Menghadapi Kondisi Survival
Usaha yang perlu kita lakukan agar dapat keluar dari kondisi survival dapat kita ketahui dari kata kunci survival itu sendiri. setiap huruf dari kata “survival” merupakan singkatan dari langkah-langkah yang harus kita lakukan bila kita berhadapan dengan kondisi survival
S : Size up the situation
Sadarilah kondisi survival ini. Bagaimana kesehatan teman-teman maupun diri sendiri. Apakah ada yang cedera? Berapa banyak persediaan makanan yang tersisa? Dalam lingkungan seperti apakah kita berada?
U : Undue Haste makes waste
Tindakan yang terburu-buru cenderung menghasilkan kesia-siaan. Berpikir dan bertindaklah dengan bijaksana. Setiap langkah harus dipikirkan secara seksama.
R : Remember where You are
Pengenalan akan lingkungan/daerah sekitar memberikan rasa kenal yang berpengaruh terhadap rasa aman. Apapun yang kita putuskan untuk diam ataupun mencari bentuan, pengenalan medan merupakan hal yang esensial.
V : Vanquish fear and panic
Kuasailah rasa takut dan panik. Merasa takut adalah normal dan perlu. Tekut merupakan reaksi tubuh yang normal dan berfungsi menyiapkan tubuh dalam menghadapi kondisi. Namun rasa takut harus dikuasai dan dikontrol. Bila tidak maka rasa takut akan meningkat menjadi panik. Panik akan mengakibatkan orang bertindak terburu-buru dan membuang energi. Panik juga dapat diakibatkan oleh rasa sepi, yang mengakibatkan putus asa.
I : Improvise
Salah satu cara mengatasi rasa takut adalah dengan mengisi waktu yang ada dengan kegiatan-kegiatan yang ditujukan pada usaha mengatasi kondisi survival. Menerima kondisi yang ada dan berdasarkan hal itu, merencanakan, mengusahakan kebutuhan-kebutuhan dasar dengan berimprovisasi. Ubahlah cara pandang terhadap apa yang ada. Inilah hal yang terpenting dalam berimprovisasi. Sebuah balok tidaklah sekedar sebuah balok, tetapi bisa menjadi bahan dasar bivak, api, pakaian, dan sebagainya.
V : Value living (Hargailah hidup!)
Merupakan hal yang terpenting dalam kondisi survival. Bagaimana sikap kita terhadap hidup akan mempengaruhi kemampuan untuk bertahan. Orang dapat bertahan/berimprovisasi, dan dengan itu keluar dari kondisi survival karena mereka menghargai hidup dan tidak beputus asa.
A : Act like the natives
Belajarlah dari penduduk setempat. Mereka lebih mengenal dan menguasai medan. Jika bertemu dengan penduduk setempat bersikaplah ramah.
L : Learn basic skills
Belajarlah dan latihan teknik-teknik dasar. Jaminan yang terbaik adalah menguasai dan memahami teknik-teknik dan prosedur survival, sehingga merasuk dan dapat dikerjakan secara otomatis. Berlatih dan tambah/tingkatkan pengetahuan tentang survival.
Dari kata-kata di atas dapat disimpulkan bahwa survival lebih merupakan sikap mental daripada penguasaan pengetahuan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pengetahuan harus diabaikan.
Unsur-Unsur Survival
Unsur-unsur dimaksud adalah hal minimal yang harus diuasahakan agar kita berhasil dalam melakukan survival.
Unsur-unsur tersebut adalah :
1. Air
2. Api
3. Makanan
4. Perlindungan
Air
Kebutuhan air
Untuk kondisi normal manusia dapat hidup tanpa air dalam keadaan tubuh sehat maksimal selama 4 hari. Akan mati 8-12 hari. Bila ada air tetapi tidak ada makanan, orang akan bertahan selama 3 minggu. Sedang kebutuhan manusia akan air minimal 2,5 lt/hari.
Syarat Mutu air
Air yang dikonsumsi manusia ideal harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Syarat fisik
Tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna dan sejuk (dibawah suhu sekitarI, jernih.
2. Syarat bakteriologi
Angka kuman 1cc kurang dari 100, Bakteri coli tidak ada dalam 100cc air
3. Syarat Chemis
Zat yag ada kurang dari 100 mg/lt, Zat organik kurang dari 10mg/lt, Mengandung fluor dan yodium.
Pencarian air
1. Pada daerah berbatu
Bila daerah ini bekas aliran lava, carilah rembesan air pada dinding lembah yang memotong aliran lava. Pada daerah berbatu kapur dapat dijumpai banyak mata air, sebab permukaannya mudah larut sehingga mudah dilalui air. Pada daerah berbatu granit air ada di pinggir, pada bagian rumput yang paling hijau, galilah kemudian tunggu sampai air merembes keluar. Pada daerah berbatu campur pasir, carilah saluran air yang biasanya terdapat di sepanjang dinding lembah yang memotong lapisan pasir yang berpori.
2. Daerah Pantai
Gali bagian pasir yang lembab. Bila airnya payau dapat disaring dengan pasir. Gali lubang kecil beberapa meter dari garis pantai saat pasang nail, setelah air keluar hentikan penggalian. ambillah bagian atas dari air tersebut, sebab bagian bawah merupakan endapan air asin.
3. Daerah Pegunungan
Galilah pada dearah bekas aliran sungai. Biasanya ada air di bawah tanah atau di bawah batu. Pada hutan lumut, ambil lumut dan peras airnya. Cari air di daerah lembah, karena dasar lembah dekat dengan permukaan air tanah.
Makanan
Pada bahasan kali ini dimaksudkan agar kita dapat bertahan dengan mengkonsumsi makanan yang ada di sekitar kita. bahan makanan tersebut bisa berupa hewan maupun tanaman.
Ciri-ciri tumbuhan yang dapat dimakan adalah:
1. Tidak bergetah susu, yang biasanya menyebabkan rasa gatal di mulut dan warnanya mudah berubah bila bereaksi dengan udara.
2. Tidak terdapat bulu pada permukaan batang dan daun
3. Tidak menimbulkan rasa panas, pahit, dan masam bila dimakan
4. Tidak berbau langu
5. Warnanya tidak mencolok
6. Tidak di hindari oleh hewan
Kecuali tanaman-tanaman yang telah dikenal dengan baik sebaiknya syarat-syarat di atas dipenuhi. Hindari mengkonsumsi satu jenis tumbuhan secara berlebihan.
Pada umumnya hewan dapat dimakan. Contoh : cacing, ular, belalang, ayam hutan, babi hutan, dll.
Api
Api diperlukan sebagai pemberi kehangatan, memasak makanan, penerangan, tanda permintaan pertolongan, meningkatkan kondisi psikis, dll
Unsur pembuat api :
1. Penyala
Kayu kecil, serbuk kayu, ranting pinus, kulit palmae, dll
2. Pembakar
Kayu mati, dahan kering, rumput, kotoran binatang yang kering, dll
Penyala api darurat
1. Berbagai benda yang mengandung lensa. contoh : kamera, teropong, dll
2. Gesekan kayu dengan kayu. biasanya menggunakan bambu
3. menggunakan busur dan gurdi
Perlindungan
Biasanya disebut bivak/tempat perlindungan sementara. akan tetapi harus memenuhi syarat melindungi diri dari hujan, dingin, panas, serangga, dan binatang lain.
Syarat mendirikan bivak antara lain :
1. Syarat Kesehatan
Ada sumber air untuk makan dan minum pada jarak yang dekat, mudah mengalirkan air yang kotor, tanah mudah menyerap air/cepat kering, Tanah tidak berbau atau beruap, contoh : kuburan.
2. Syarat teknis
Dekat sumber bahan bivak, dekat kayu bakar.
Tujuan dari syarat-syarat dimaksud adalah agar dalam mendirikan bivak cepat dan tepat untuk keperluan tugas. sedang lokasi yang memenuhi syarat adalah daerah ketinggian, bukan di sungai kering dan jangan dibawah pohon dan ranting lapuk.
Jenis dan macam tempat perlindungan :
1. Alam
contoh yang lazim adalah ceruk-ceruk atau gua.
2. sementara
- dengan ponco , bisa bentuk miring atau tenda, atap yang rendah biasanya membuat suhu di dalamnya lebih hangat.
- dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam, contohnya daun palmae, ranting, dahan ,daun, dll
- semi permanen, menggunakan kerangka, mempunyai dinding, dan pintu, contohnya gubug, tenda
Jika Anda Tersesat
Ingatlah selalu sebuah akronim yang difavoritkan oleh Emergency Respons Institute of Olympia, yaitu : S-T-O-P Stop, Think, Observe, dan Plan
STOP : Jika anda merasa tidak nyaman dengan situasi, jangan pergi lebih jauh, juga jangan panik, seorang pemula atau penggiat alam bebas yang belum berpengalaman dinasehati untuk tetap berada di tempat ketika mereka merasa tersesat, “peluklah sebuah pohon” dan nasehat-nasehat yang lain. Peraturan itu berubah jika area tersebut tidak aman atau salah satu anggota kelompok anda membutuhkan bantuan medis. Berhitunglah sampai 10, minum beberapa teguk air atau makan makanan kecil agar pikiran anda menjadi lebih segar dan dapat membantu mengatasi situasi yang anda alami.
THINK : Dimana anda berada ketika anda yakin akan posisi anda. Apakah disebuah persimpangan jalan setapak? Apakah anda dapat kembali ke titik awal? Apakah anda dapat mendengar atau melihat bentang alam yang dapat membantu anda untuk berorientasi, seperti Jalan raya atau jalan setapak? Jika ada, dengan hati-hati kembalilah ke titik itu kemudian tetapkan pilihan anda akan terus melanjutkan perjalanan.. ingatlah bahwa anda harus mampu menguasai situasi, jangan sampai situasi yang menguasai anda..
OBSERVE : Pasang baik-baik seluruh indera anda, gambarkan dalam pikiran anda bagaimana bisa sampai di posisi anda sekarang. Ingatlah semua detail serta keadan, sehingga anda memiliki gambaran, gunakan untuk membawa anda ke tempat dimana anda yakin akan posisi anda sebelum tersesat tadi. Lakukanlah, jika tidak yakin tetaplah berada di tempat karena lebih mudah bagi regu penolong untuk menemukan anda dekat dengan jalur pendakian anda yang sebenarnya. Apakah disana ada sesuatu yang mungkin berguna bagi anda? Adakah bahaya yang harus anda hindari? Kapankah hari gelap? Serta bagaimana keadaan cuaca?
PLAN : jika anda bersama teman, diskusikan sebuah rencana. Jika sendirian ini akan membantu untuk membuat rencana seolah-olah anda sedang menjelaskan rencana anda kepada seseorang. Jika rencana ini masuk akal, laksanakan rencana anda tersebut, jika tidak maka tinjau kembali rencana anda. Jika situasi berubah tidak sama dengan apa yang anda rencanakan, gunakan kembali metode “STOP” untuk memperbaiki rencana semula.
Tips : Apakan anda yakin kalau anda dekat dengan “obyek vital” seperti jalan raya, jika iya dan anda percaya dengan arah itu dan hari masih terang, pertimbangkan untuk menerobos semak-semak menuju tempat tersebut.
Mungkin hanya ini saja yang bisa aku uraikan sedikit banyaknya tentang ilmu yang menyangkut dengan mountaineering.. dan disini banyak kekurangan2 yang perlu kita tambahkan untuk kesempurnaan dimasa yang akan datang…
Profil Mapala JE Universitas Jabal Ghafur sigli
Mapala je adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang olah raga alam bebas, dunia petualangan, dan pariwisata alam. Bernaung di bawah universitas jabal ghafur sigli sebagai salah satu unit kegiatan mahasiswa pecinta alam dan lingkungan hidup.
mapala je menampung minat-bakat mahasiswa(i) yang cinta alam, dan mendidik kader-kader masa depan untuk terus melestarikan alam dengan semangat kepecintaan alaman.
Mapala JE Unigha Sigli berdiri pada tanggal 05 Juni 2006.